Ervan Ceh Kul, Musisi Muda Gayo dengan Talenta Emas

Laporan : Kurnia Muhadi


Takengon -  lingepost.com :
Darah seni kental mengalir dalam tubuhnya. Bakatnya di bidang musik tak perlu diragukan lagi. Dia adalah idola bagi masyarakat di Dataran Tinggi Gayo.

Sejak meluncurkan album solo perdananya di tahun 2012, pelantun lagu Muniru ini semakin meraih popularitasnya sebagai seorang musisi daerah.

Lagu-lagunya digemari oleh semua kalangan. Suaranya begitu khas mewakili sisi kedaerahan yang akrab ditelinga masyarakat Gayo.

Dia adalah Ervan Ceh Kul, sosok pemuda berbakat dengan talenta emas di bidang seni musik. Kehadirannya di blantika musik Gayo mampu memberi warna tersendiri.

Kreatifitas dan jiwa seni tinggi yang dimilikinya telah melahirkan sederet karya terbaik untuk Tanoh Gayo, serta masyarakat luas pecinta musik pada umumnya.

Musisi yang satu ini selalu berusaha menuangkan segenap kemampuannya dalam berkarya. Ervan Ceh Kul terus melahirkan lagu-lagu baru ciptaannya. Dia juga suka memberikan sentuhan kreatifitas terhadap lagu-lagu legendaris Gayo yang dia lantunkan kembali.

Ervan Ceh Kul adalah seorang arranger andal. Musisi muda ini memiliki kemampuan penguasaan berbagai alat musik, baik itu alat musik modern maupun tradisional.

Sebagai seorang musisi, Ervan, juga memiliki kreatifitas tinggi dalam memberikan sentuhan penyesuaian komposisi musik terhadap lagu-lagu yang diciptakannya.

Karya-karyanya memiliki daya pikat karena disajikan penuh harmoni dengan racikan musik berkualitas yang dia ramu sendiri.

Ervan memilih word musik sebagai genre untuk karya-karyanya. Word musik, kata Ervan, adalah aliran yang menggabungkan musik tradisional dengan musik modern, tanpa menghilangkan identitas dari musik tradisional itu sendiri.

Semua itu menjadi semakin sempurna saat dipadu suara khas seorang Ervan Ceh Kul. Dia adalah penyanyi bersuara merdu penuh karakter kedaerahan yang sangat mewakili masyarakat Gayo.

Album Muniru sebagai album solo perdana yang diluncurkannya pada tahun 2012, terbukti laris manis di pasaran.

Masyarakat pecinta lagu Gayo dibuatnya terkesan. Ervan Ceh Kul seolah membawa angin segar bagi perkembangan musik etnik Gayo dengan lebih mengedepankan mutu dan kualitas musik.

**

Musisi kelahiran Takengon, Aceh Tengah, pada 11 April 1988, ini memiliki nama asli Ervan Yoga. Dia kemudian lebih dikenal dengan nama panggung sebagai Ervan Ceh Kul.

Jiwa seninya sudah terbentuk sejak kecil. Dia mewarisi darah seni dari ayah dan kakeknya. Ayahnya Abadi Ayus adalah seorang musisi legendaris di Dataran Tinggi Gayo. Sedangkan sang kakek merupakan seorang maestro dalam seni didong gayo.

Kakeknya M. Thaib atau lebih dikenal dengan nama M. Des Lakiki merupakan pendiri grup Didong Lakiki. Dia adalah ceh didong ternama di masanya.

Tak heran darah seni mengalir deras dalam diri seorang Ervan Ceh Kul. Dia sudah mulai mengekspresikan bakat seninya sejak usia 5 tahun dengan ikut mendampingi ayahnya berdidong bersama sejumlah grup didong ternama, seperti grup Timang Rasa, Kabinet Bebesen, dan Kemara Bujang.

Kala itu, Ervan, mulai berperan sebagai Ceh Kucak. Seorang pelantun cilik yang melagukan syair-syair didong bersama orang-orang dewasa.

Ervan kecil sudah memiliki suara khas seorang ceh didong. Dia anak yang sangat berbakat. Jiwa seni telah mendarah daging dalam setiap langkah kehidupan yang dia jalani.

Pada usia 6 tahun, Ervan, mulai memasuki dunia rekaman. Dia melahirkan album lagu Gayo bersama ayahnya. Lagu-lagu yang ikut dia nyanyikan di album tersebut merupakan lagu karya ciptaan ayahnya Abadi Ayus dan kakeknya M. Des Lakiki.

Sosok Ervan terus tumbuh sebagai seorang seniman dengan talenta emas. Saat beranjak dewasa, Ervan, mulai mempelajari penggunaan berbagai jenis alat musik, baik modern maupun tradisional.

Dia pernah menjadi juara lomba suling di Takengon, kerap mengikuti berbagai festival musik, membentuk grup band remaja, dan meraih sejumlah prestasi.

Di usia remaja, Ervan, lebih suka mendalami bakatnya sebagai seorang gitaris. Bersama teman-teman sebaya dia membentuk grup band beraliran rock dan kerap mendapatkan penghargaan sebagai gitaris terbaik.

Ervan mulai eksis di dunia musik etnik kala dia bergabung dengan grup Band Zombeetnica, pada tahun 2005.

Namun sebelum kehadiran Ervan, Zombeetnica, juga merupakan band yang mengusung aliran musik cadas. Lalu berubah haluan memainkan musik etnik dan menciptakan lagu-lagu mereka.

Di grup band ini, Ervan, dipercaya sebagai vokalis. Dia banyak berperan menciptakan lagu-lagu yang kemudian membumingkan Zombeetnica sebagai band musik etnik dengan mengusung genre word musik.

Lagu-lagu mereka kerap menggabungkan beberapa bahasa, seperti bahasa Gayo, Aceh, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia ke dalam satu lagu.

Band yang satu ini kemudian cukup dikenal luas oleh masyarakat pecinta musik etnik di Indonesia.

Single mereka berjudul Burning Louser diputar di radio-radio swasta di Takengon, Aceh, bahkan sampai ke Bali.

Zombeetnica juga pernah meraih juara Festival Word Musik Riau Hitam Putih, di Riau, pada tahun 2009.

**

Di tahun 2012, Ervan, kemudian memutuskan untuk bersolo karir. Keputusannya itu awalnya diragukan oleh sang ayah. Namun, Ervan, akhirnya berhasil meyakinkan orangtuanya untuk keputusan yang diambil.

"Sempat debat dengan bapak. Awalnya bapak ragu apakah bisa diterima oleh masyarakat. Tapi saya optimis dan menjelaskan kepada bapak," tutur Ervan.

Musisi muda ini akhirnya membuktikan bahwa keputusan yang diambilnya tepat. Album Muniru laris manis di pasaran.

Perpaduan antara musik modern dan tradisional yang dikemas penuh harmoni untuk setiap lagu di album tersebut, bisa diterima baik oleh masyarakat.

Kreatifitas dan kesuksesan, Ervan, bersama album solo perdananya itu bahkan menjadi inspirasi bagi kalangan anak muda di Gayo.

"Saya ingin anak muda di Gayo bisa lebih menyukai lagu-lagu daerahnya sendiri. Karena sebelumnya kalangan anak muda tidak terlalu suka mendengarkan lagu-lagu daerah," ujar Ervan.

Di album Muniru, Ervan, mengemas 10 lagu. Sebanyak 6 lagu dia ciptaakan sendiri. Sedangkan sisanya, dia mengaransemen 4 lagu karya ciptaan kakeknya.

Album tersebut akhirnya sukses membawa, Ervan Ceh Kul, meraih popularitasnya. Dia kerap mendapatkan tawaran manggung di berbagai event penting kedaerahan untuk melantunkan tembang-tembang hitnya.

Lagunya berjudul Tutit Liet di album Muniru bahkan pernah menjadi lagu pilihan di Festival Lagu Daerah di Jakarta. Kala itu, secara khusus Ervan juga menerima penghargaan sebagai pencipta lagu tersebut.

Pada tahun 2013, musisi muda ini juga meraih penghargaan Takengon Award atas kreatifitasnya di bidang musik. Penghargaan itu dia terima dalam rangka peringatan HUT ke 436 Kute Takengen.

**

Sukses dengan album Muniru, Ervan, kembali menggarap album keduanya di tahun 2016. Kali ini dengan warna musik yang lebih kaya.

Musisi muda ini menumpahkan kreatifitasnya dengan menggabungkan sejumlah warna musik seperti pop, britis, dan beragam warna musik lainnya ke dalam satu album yang dia beri judul Kupi Gayo.

"Warna musik di album ini akan lebih luas. Kita meramu beragam warna musik, jadinya seperti orkestra," kata Ervan.

Ervan Ceh Kul juga mengemas sebanyak 10 lagu untuk album Kupi Gayo. Diantaranya 7 lagu merupakan karya ciptaannya sendiri dan 3 lagu lainnya merupakan lagu legendaris Gayo yang dia aransemen ulang, khusus untuk album solo keduanya itu.

Ervan berharap album Kupi Gayo juga bisa diterima oleh masyarakat luas. "Dalam waktu dekat ini kita lounching (Album Kupi Gayo)," kata Ervan, saat berbincang bersama lingepost.com di ARB Coffee Shop Takengon, Senin malam, 1 Agustus 2016.

Kedepannya, Ervan, mengaku akan tetap berkreatifitas di bidang musik, khususnya melahirkan karya-karya terbaru untuk seni musik Gayo.

Dia juga punya keinginan untuk bisa berkolaborasi dan menggarap lagu bersama musisi-musisi legendaris di Dataran Tinggi Gayo dan terus berusaha untuk memajukan seni musik Gayo agar lebih dikenal luas oleh dunia.

%d blogger menyukai ini: