Kopi dan Seni di ARB Coffee Shop

Laporan : Kurnia Muhadi

Takengon - lingepost.com : Sejumlah seniman ternama di Dataran Tinggi Gayo berkumpul di ARB Coffee Shop, Minggu malam, 7 Februari 2016.

Tak hanya menyeruput kopi yang dihidangkan barista di tempat itu, para seniman menyulap suasana coffee shop menjadi pentas seni.

Bait-bait puisi tentang kopi pun menggema. Fikar W Eda, Salman Yoga, LK Ara, dan para penyair lainnya lantang menghujamkan kata-kata berbaris makna, dari satu budaya dan tradisi meminum kopi di tengah masyarakat di Dataran Tinggi Gayo.

Kopi dan seni. Itulah yang tersaji dihadapan pengunjung ARB Coffee Shop di malam itu.

Penampilan para seniman seolah membawa pesan bahwa kopi dan seni adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan di kehidupan masyarakat Gayo.

"Kopi juga nafas cinta. Diminum penuh gelora. Dari bibir cakrawala," kata Fikar W Eda dalam baris puisi yang dibacakannya.

Kehadiran para seniman lainnya, seperti Ceh Mahlil, Ceh Daud Kala Empan, dan kelompok musik Uluh Guel, semakin membuat suasana minum kopi penuh kehangatan.

Diantara pengunjung ARB Coffee Shop malam itu, tampak mantan Wakil Ketua MPR-RI Ahmad Farhan Hamid dan rombongan sedang menikmati hidangan kopi dan seni yang ada dihadapannya.

Tak ketinggalan, tokoh politisi tingkat nasional ini pun didaulat untuk membacakan sebuah puisi. Ahmad Farhan Hamid tampil diiringi irama suling yang ditiupkan oleh Ceh Kala Empan.

Kopi dan seni menyatu di ARB Coffee Shop. Tempat ngopi yang satu ini memberi ruang kepada para pelaku seni untuk dapat berkreasi dan berekspresi.

Fikar W Eda mengatakan tempat-tempat seperti itu diperlukan untuk menumbuh kembangkan semangat dan jiwa seni di kalangan generasi muda Gayo.

Sementara kopi adalah nafas kehidupan. Seperti ungkapan puisi dari penyair ternama ini tentang kopi yang diaduk dengan tangkai bulan sabit.

Dibaris lainnya dalam puisi berjudul kopi pagi tersebut, Fikar W Eda menyerukan "Ayo seduh kopi. Kita teguk dunia".

%d blogger menyukai ini: