Camping 100 Tenda, Menikmati Pesona Lut Tawar di Malam Hari

Ilustrasi

Laporan : Kurnia Muhadi

Takengon – lingepost.com : Panorama alam Danau Lut Tawar tak hanya memukau di siang hari. Danau cantik milik masyarakat Negeri Antara ini masih lebih mempesona saat bersandingkan malam di bawah cahaya sinar rembulan.

Udara sejuk nan segar yang menebar di waktu temaram menjadi keelokkan tersendiri yang dimiliki danau ini. Lut Tawar merupakan bentangan danau biru yang menawan di setiap waktu. Tempat yang menawarkan kenikmatan memandang kepada siapapun yang datang, tak peduli siang ataupun malam.

Untuk pertama kalinya, sekelompok pecinta lingkungan di Kabupaten Aceh Tengah mengajak siapa saja menikmati pesona Lut Tawar di malam hari dengan mendirikan tenda-tenda.

Mereka juga memfasilitasi pengunjung dengan menu masakan khas Gayo untuk tujuan memperkenalkan kuliner daerah dan memastikan Lut Tawar sebagai objek wisata yang patut dikunjungi. Kehangatan dari secangkir kopi arabica gayo juga tak ketinggalan menemani.

Momen itu terjadi pada 3 Oktober 2015 tepat di malam Minggu. Aliansi Gayo Diatas Awan menggagas kegiatan Camping 100 Tenda se-Aceh di kawasan wisata Ujung Nunang, Danau Lut Tawar. Sebanyak 150 peserta ikut meramaikan suasana.

Para peserta datang dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Kegiatan itu juga sekaligus menjadi ajang untuk menjalin silaturrahmi dan memberi kesempatan bagi mereka yang selalu ingin dekat dengan alam.

Tenda-tenda didirikan di alam lepas. Walau cuaca malam itu sempat dirundung hujan, tetap tak menyurutkan semangat para peserta untuk datang ke lokasi.

Dari dalam tenda, peserta camping masih bisa menikmati pemandangan kota Takengon di sisi sebelah barat danau yang tampak indah dipenuhi gemerlapan lampu-lampu kota.

Saat malam memasuki pukul 23.30 WIB, hujan mulai reda. Lalu camping yang sebenarnya bisa dimulai; menikmati pesona malam di tepi danau dalam suasana kebersamaan. Api unggun pun menyala menghangatkan suasana.

Para peserta camping tak melewatkan momen kebersamaan malam itu begitu saja. Dengan sigap mereka mengabadikannya lewat foto.

Mereka yang datang dari luar Kabupaten Aceh Tengah tampak begitu mengagumi pemandangan yang ada. Bagi mereka, malam itu adalah waktu untuk bersama dengan alam.

Menikmati segarnya udara selepas hujan sembari melepaskan pandangan mata kearah bentangan danau biru yang diterangi cahaya bulan adalah saat-saat yang mereka nantikan.

Tak ada waktu lagi untuk masuk ke dalam tenda.   Kebersamaan mereka berlangsung hingga fajar. Hingga mentari pagi memberi arti untuk semua waktu yang telah dilewati.

Pagi pun begitu cerah. Satu persatu peserta camping mulai beranjak menuju tepi danau. Kejernihan air Lut Tawar memberi kesegaran untuk membasuh muka. Ada juga yang menceburkan diri sembari mandi pagi.

Kebersamaan berlanjut dengan menyantap hidangan sarapan pagi yang disediakan oleh panitia Camping 100 Tenda. Para peserta kemudian semakin akrab dan lebih saling mengenal saat bermain bersama pada sesi game berhadiah. Game dibuat untuk menguji kekompakan setiap kelompok peserta.

Selanjutnya panitia camping juga mengajak peserta berkeliling ke beberapa tempat wisata di seputaran danau Lut Tawar sebagai agenda terakhir.

Usai berkeliling; seluruh peserta kembali ke lokasi camping untuk berkemas sebelum pulang. Tenda-tenda kembali dibongkar dan dirapikan. Tak ketinggalan setiap peserta memunguti sampah untuk ikut dibawa meninggalkan lokasi agar kebersihan lingkungan tetap terjaga.

Setelah lokasi camping dipastikan bersih dari sampah, satu persatu peserta mulai beranjak meninggalkan tempat itu. Tempat yang sejuk di kaki bukit yang berselimut awan putih. Tepi danau dengan panorama alamnya yang eksotis.

Walau belum dilengkapi dengan fasilitas yang dibutuhkan untuk tempat tujuan wisata, Danau Lut Tawar tetaplah elok untuk dikunjungi.

%d blogger menyukai ini: