Vandalisme: Perusak Nilai Pendidikan dan Moral Generasi

Oleh : Dr Joni MN MPd BI

A. Vandalisme

Vandalisme dapat memengaruhi kerusakan spiritualisasi manusia dan merupakan tindakkan yang tidak berlandaskan kepada nyawa spiritualitas dan rohani yang kenyang serta tidak merujuk pada jiwa yang takut akan Tuhannya.

Tetapi tindakkan ini lebih kepada penghambaan diri kepada jabatan, harta, penguasa, dan berhenti pada nafsu lawamah yang berakibat menjadi almarah, dikemudian hari.

Oleh karenanyalah sipat vandalisme ini sangat mempengaruhi spiritual yang kemudian nantinya berdampak kepada kesehatan mental dan kesehatan fisik diri pelakunya.

Isitlah ini pertama kali digunakan oleh seorang Uskup tahun 1794, yang lebih merujuk kepada perusakan benda-benda seni, selanjutnya beberapa penjelasan di dalam buku sosial menyatakan bahwa berkaitan dengan hal ini John Dryden pada tahun 1694 pernah menulis bahwa bangsa Goth dan Vandal adalah bangsa Utara yang kasar dan bangsa yang banyak sekali merusak monument, karena itulah bangsa Vandal disebut dengan bangsa perusak, sampai menjadi sebutan istilah (perusak).

B. Perkembangan Konsep Vandalisme Saat ini

Saat sekarang ini sipat dan sikap Vandalisme sudah memiliki perkembangan konsep ke arah yang lebih halus tetapi sangat berbahaya, tetapi orientasinya masih mengarah pada perusakan, yakni perusakan mental (sakit mental, sakit jiwa; sudah tidak ada lagi unggah-ungguh/ sopan-santun, serta hilangnya nilai-nilai kerja sama yang tulus), perusakan jiwa (sehingga timbul banyak tauran antar pelajar dan antar kampung, pembunuhan dimana-mana, dan tindakkan-tindakkan ekstrim lainnya), perusakan alam (sehingga terjadi longsor, banjir dimana-mana), dan dampak-dampak yang merusak serta merugikan lainnya.

Ini semua adalah turunan dari perilaku Vandalisme – spiritualisasi (yakni; kerusakan-kerusakan spiritual manusia meuju kehancuran) yang saat ini sudah membentuk watak-watak jahanam, yang dilakukan oleh oknum-oknum yang berjiwa Vandalis beririentasi kepada feodalisme dengan tidak lagi mengopen kepada fitrah manusia itu sendiri dan tampa lagi memperdulikan rasa-perasaan yang dirasakan oleh manusia itu sendiri.

Sipat dan sikap vandalis ini lebih kepada tujuan perpecahan, jika ditinjau kepada kajian hobi dan bakat mahluk Tuhan yang sangat senang akan kehancuran, permusuhan dan perpecahan antara sesama, yakni jenis mahluk Iblis dan setan.

Jadi, vandalis ini adalah bentuk dari waktak-watak yang sudah dimasuki bahkan orang yang sudah dikuasi oleh sipat-sipat Iblis dan Setan sepenuhnya.

C. Sipat Vandalisme Sakit Jiwa

Sipat-sipat dan sikap ini jelas jauh dan tidak mencerminkan keterpelajaran manusianya (akhlak) walaupun sudah pernah dan lama duduk dibangku sekolahan (berpendidikan tinggi), karena kelas-kelas vandalisme ini adalah kelas-kelas oknum manusia yang mengalami ketidaksehatan jiwa dan mentalnya sakit, sehingga tampak realisasi dari akhlaknya juga sudah lebih menunjukan kearah kerusakan yang tidak lagi berdiri kokoh di atas moral-moral kemanusiaan yang murni dan hakiki yang diajarkan oleh Tuhan.

Jika sikap ini ada di dalam dunia pendidikan jangan harap dunia pendidikan tersebut akan dapat mencetak generasi-generasi yang bermental dan bermoral baik.

Selanjutnya, jangan harap dunia pendidikan kita akan maju sesuai dengan cita-cita yang sudah ada, melainkan malah sebaliknya, yakni bertambah bobrok alias rusak, ini pasti rusak.

Sipat vandalisme ini erat sekali kaitannya feodalisme dan banyak sekali terjadi di dunia kekuasaan yang berbentuk feodalisme, yang mana bentuk kekuasaan lebih berorientasi kepada materialis, jauh dari perbaikan mental dan jiwa anggota masyarakatnya (Sumber Daya Manusianya), tetapi lebih kepada materialistis, sehingga pendidikan tersebut akan dapat bermuara kepada bentuk-bentuk fisik lainnya, dan menghilangkan hal-hal yang merujuk kepada keyakinan-kayakinan dalam bentuk gaib, bagi umat Islam ini sudah melanggar salah satu rukun, yakni rukun Iman.

Pemangku kebijakan alias Pemerintah, kajilah kembali konsep pendidikan kita dengan jelas dan konsisten, jelasnya sesuaikan kembali dengan kontekstulnya, Kembalikanlah norma-norma dan nilai pendidikan yang bernilai holistik dahulu yang dahulu sempat mengarahkan para peserta didik kita lebih mengarah kepada nilai-nilai kemanusian, menjaga hubungan sesama mahluk/ manusia dan mengajarkan manusianya lebih kepada penyadaran diri dan mengarahkan manusianya untuk dapat menyadari terhadap kebesaran serta kekuasaan Tuhan, baik yang tersurat maupun yang tersirat.

D. Harapan Kepada Pemerintah

Pemerintah, jangan terlalu berpedoman sepenuhnya kepada konsep pembelajaran dan pengajaran yang dihasilkan oleh kajian barat, hal ini bukan tidak boleh tetapi jangan berpatokan sehingga ketergantungan, terkacauali untuk sekedar perbandingan belaka, karena, jika perdoman penuh ke sana maka hilanglah warna dan karakter kita sebagai bangsa yang memiliki sopan, santun, dan kerja sama yang kuat, saling menghargai.

Di sisi lain, belum tentu hasil penelitian mereka itu relevan dengan kondisi kita yang sebenarnya di semua pelosok Nusantara ini.

Kemudian yang lebih penting, yakni janganlah langsung merealisasikan hasil dari penelitian yang objeknya adalah hewan bukan manusia, untuk diterapkan kepada manusia di sekolah-sekolah.

Hal ini sangat tidak mungkin, karena hewan dan manusia memang ada kesamaan, namun secara batin dan spiritualisasinya pasti sangat berbeda, yakni pada; watak, naluri, insting, dan daya nalar juga perasaannya.

Tidak mungkin watak, naluri, insting, dan daya nalar juga perasaan manusia sama persis dengan yang dimiliki oleh hewan dan lainnya.

Jika ini langsung diterapkan kepada manusia, maka apa jadinya manusia itu?, yang jelas sipat-sipat vandalisme dan feodalisme akan muncul dan mendominasi perwatakan manusia itu sendiri.

Kemurnian spiritualisasinya akan rusak dan sakit, oleh sebab itulah terjadi sikap Vandalisme – Spiritualisasi yang akan melahirkan feodalisme.

Penyakit yang demikian ini akan dapat menjadi suatu musibah dan menjadi tindakkan ekstrim, akhir-akhir ini banyak terjadi di mana-mana (disekolah, di rumah tangga, di perkotaan, di kampung-kampung atau juga di perkebinan) adalah tindakkan-tindakkan yang sangat sadis dan kejam.

Harapan kepada pemerintah Indonesia khususnya bidang Pendidikan, mohon agar lebih selektif lagi di dalam memilih metode, pendekatan dan teknik pengajaran juga teori-teori yang hendak dimasukan kedalam pengaturan sistem, jangan asal jadi demi mendapatkan proyek generasi kita di masa yang akan datang yang menjadi korbannya.

Jika ini terjadi, maka tunggu kehancurannya, karena hal tersebut sangat sensitive dan sangat berdampak negative terhadap dampak dari vandalism, yang meliputi; spiritual, mental, moral (akhlak), dan lingkungan juga alam sekitar kita.

Untuk pengintegrasian metode, toeri dan pendekatan lain, hal ini butuh pengkajian secara mendalam, serius, detail dan seksama secara kontekstual bukan secara non konteks, sebab hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan pemikiran, watak, wawasan, dan pola pikir para peserta didik kita dikemudian hari nanti.

 

Penulis adalah Dosen Alwashliyah Takengon, Aceh Tengah | Ka.Bidang Penelitian & Pendidikan, Pengembangan Majelis Adat Gayo Kabupaten Aceh Tengah
%d blogger menyukai ini: