Sudahkah Kita Memiliki Sikap Siap Kalah dan Siap Menang

Ilustrasi

Refleksi menjelang Pilkada Aceh 2017

lingepost.com - Pilkada serentak di 101 kabupaten/kota dan propinsi, termasuk Aceh, tinggal menghitung hari lagi. Segenap rakyat dan elemen masyarakat sipil (civil society) di Aceh dengan perasaan haru, gembira dan harap-harap cemas menanti kehadiran sosok pemimpin Aceh 5 tahun kedepan karena akan menentukan arah dan masa depan Aceh.

Masing-masing kandidat calon Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, dan Gubernur/Wakil Gubernur dan para tim sukses sudah bekerja siang malam mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, dana yang begitu besar, menawarkan program dan janji-janji politik, serta melakukan segala cara (intimidasi, teror, provokasi, dan politik uang) untuk meyakinkan rakyat Aceh bahwa mereka atau pun jagoannya pantas dipilih dan layak dijadikan sebagai pemimpin.

Bila kita cermati dari perjalanan panjang pelaksanaan tahapan kampanye dialogis  dan kampanye terbuka yang dilakukan para kontestan dan tim pemenangnya, rakyat disuguhkan dengan janji-janji manusia dengan jargon-jargon klasik demi dan atau atas nama kesejahteraan, kemakmuran, harga diri dan marwah rakyat Aceh.

Tapi dari kesemua itu, untuk saat ini rakyat Aceh masih berprasangka baik terhadap para kontestan Pilkada Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Walikota Aceh bahwa apa yang selama ini mereka dan tim pemenangannya sampaikan adalah memang keluar dari nurani niatan suci para calon pemimpin Aceh untuk membangun, memperbaiki, dan meningkatkan taraf perekonomian dan kesejahteraan rakyat Aceh keseluruhan, bukan atas nama kepentingan pribadi, keluarga atau pun kelompok karena hanya waktu yang bisa membuktikan.

Menjelang hari pemilihan (pencoblosan), hiruk pikuk perjalanan panjang persiapan pilkada yang dilakukan oleh para kontestan akan berakhir, karena terhitung 12 Februari 2017 pukul 00.00 WIB, tidak ada kegiatan apapun dalam bentuk sosialisasi karena selama 3 hari rakyat Aceh diberikan kesempatan untuk berfikir secara jernih, cerdas, dan berdasarkan hati nurani dalam menentukan calon pemimpin yang benar-benar bisa membawa kemajuan bagi diri dan daerah mereka karena keterlibatan rakyat sebagai pemilih pada hari "H" (pencoblosan) yang berlangsung selama lebih kurang 3 menit di bilik suara merupakan momentum penting dalam mengukir sejarah demokrasi Aceh. Sebab proses tersebut sangat menentukan masa depan propinsi/kabupaten/kota mereka selama 5 tahun ke depan.

Tapi ada 1 pertanyaan mendasar yang sangat menggelitik alam pemikiran saya dan kita semua mungkin. Apakah para kontestan dan tim pemenangnya sudah memiliki sikap dan mempersiapkan mental untuk SIAP MENANG DAN SIAP MENERIMA KEKALAHAN? Mengingat sudah banyak yang telah dikeluarkan dan dikorbankan para kontestan dan tim pendukung nya demi merebut sebuah kekuasaan.

Tak ubahnya perlombaan atau kompetisi, pasti selalu ada yang menang dan yang kalah karena itu sudah menjadi hukum alam yang telah diciptakan Allah SWT.  Begitu juga dengan Pilkada Aceh kali ini yang nantinya akan memunculkan satu orang pemenang, meski hasilnya baru akan dipastikan berdasarkan keputusan final KIP Aceh dan KIP Kabupaten/Kota di daerah masing-masing.

Namun yang harus digaris bawahi disini adalah bagi mereka yang memenangkan kontestasi karena mendapatkan kepercayaan lebih oleh rakyat yang milihnya, perlu diingatkan bahwa kemenangan bukanlah kesempatan untuk membangga-banggakan diri, apalagi memperkaya diri, keluarga dan kelompoknya, tapi hendaknya kemenangan yang di dapat dijadikan sebagai alarm bahwa ada tanggung jawab yang mesti diemban dan diwujudkan.

Amanah rakyat yang telah diberikan mesti ditunaikan ketika menjabat karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban di dunia oleh seluruh rakyat Aceh, tapi pertanggungjawaban di akhirat, pengadilan yang Maha Kekal, adalah sebuah keniscayaan.

Keterpilihan hendaknya jangan dijadikan sebagai ajang pemuas hawa nafsu demi kepentingan pribadi, keluarga dan kelompok tapi jadikan itu sebagai amanah rakyat dan tugas negara yang harus dijalankan dengan keikhlasan. Kemudian, bagi mereka yang kalah dan mendapatkan kesempatan, kita juga perlu mengingatkan bahwa kekalahan bukanlah aib yang memalukan karena kekalahan merupakan konsekuensi yang harus diterima (suka atau tidak suka) dari produk kompetisi di segala dimensi yang menghasilkan “MENANG” dan KALAH.

Ambil hikmah dari kekalahan yang dialami karena banyak pembelajaran yang diambil  sebagai pengingat terbaik bahwa masih banyak hal yang harus dibenahi dan dipersiapan di segala sektor jika ingin melakoni peran sebagai pejabat publik.

Rakyat Aceh sangat membutuhkan  keteladanan dari setiap pemimpin dan tokohnya, terutama dari para calon kepala daerah, dalam  aspek. Keteladanan yang dipertontonkan oleh para calon kepala daerah menjelang pelaksanaan pilkada kepada rakyat hendaknya tidak sekedar simbol dan topeng ansih, tapi merupakan sikap mental yang menjiwai seluruh gerak-gerik kehidupan para calon pemimpin daerah.

Pada konteks pilkada Aceh, sikap mengakui kekalahan dan siap menjalin silaturahim yang ditunjukkan oleh para calon kepala daerah dan menenangkan massa pendukungnya untuk menerima kekalahan bukanlah sebuah aib, tapi merupakan sikap patriotik dan kesatria dari seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan dan kenegarawanan.

Bagi para teladan (negarawan/kesatria), mengakui ketidakterpilihan secara tulus justru dijadikan sebagai kesempatan untuk membuktikan model perpolitikan yang mendatangkan keteduhan, rasa aman dan damai yang selama ini terus digaungkan kepada masyarakat.

Sebab bagi para calon pemimpin yang memiliki jiwa patriot, kesatria, dan kenegarawanan, konfrontasi dan anarkisme bukanlah satu-satunya solusi untuk tidak menerima kekalahan dengan menyatakan bahwa kandidat yang menang melakukan kecurangan karena hal tersebut tanpa disadari akan membongkar karakter dan jati diri negatif/menyimpang calon pemimpin tersebut kepada khalayak ramai yang selama ini dipendam demi  mendapat simpati, dukungan rakyat dan merebut kekuasaan dengan mengatakan bahwa pihak pemenang telah melakukan banyak kecurangan.

Rasanya sudah pantas dan layak kalau kita mengatakan bahwa saya, anda, dan kita semua rakyat Aceh sudah muak dan jenuh dengan segala tontonan anarkisme dan bentrokan antar sesama tim pendukung karena hal tersebut tidak memberikan konstribusi positif apapun dalam setiap sektor riil kehidupan dalam berbangsa dan bernegara kepada seluruh rakyat Aceh. Yang ada hanya akan menyisakan perpecahan kekerabatan/silaturrahmi di antara sesama keluarga dan tetangga, menghabiskan energi positif yang seharusnya bisa dikreasikan ke dalam bentuk ide-ide kreatif, merusak sendi-sendi perekonomian, menciptakan instabilitas, ketidak nyamanan, ketidak amanan, dan ketidak damaian, serta rusaknya sendi-sendi persatuan dan kesatuan dalam bernegara dan berbangsa.

Kita harus saling mengingatkan dan memberikan pengertian jika ada sahabat, teman dan keluarga yang terlibat sebagai tim pemenangan salah seorang kandidat (calon) yang dalam momentum pilkada kali ini kerap melakukan sikap berlebihan (over) dalam memberikan penghormatan dan pembelaan kepada kandidat yang didukungnya  bahwa kontestan pilkada (baik yang menang atau pun kalah) bukanlah kita, tapi “mereka” yang disahkan oleh penyelenggara sebagai peserta.

Mereka bukan kita, hanya saja mereka adalah representasi suara kita yang sepenuhnya kita serahkan melalui keterwakilan terhadap dirinya yang hasilnya disahkan melalui KIP Aceh dan KIP Kabupaten/Kota.

Tapi sikap kebesaran hati, keikhlasan, dan kenegarawanan dalam menerima kekalahan dan kemenangan tidak hanya menjadi perwujudan jati diri dia saja, tapi merupakan perwujudan jati diri dan karakter kita semua sebagai pendukung.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dalam setiap pagelaran pesta demokrasi kepala daerah, yang pertama adalah substansi dari pembelajaran politik  bukan terletak pada hasil semata, melainkan dari perspektif mana kita menilai sebuah hasil sebagai evaluasi dan pembelajaran.

Dalam arti kata, ketika pemilih menentukan pilihan pada figur dan program, pemilih bukanlah manusia kemarin sore yang terserah apa kata si calon kepala daerah. Mereka tentu memiliki segudang argumentasi dan pertimbangan. Selanjutnya, kekalahan dalam proses pilkada adalah peristiwa penting karena menyangkut refleksi kinerja, kualitas dan pengaruh diri dari seluruh elemen pendukung dan pengusung pencalonan dirinya (baik partai politik maupun tim relawan, dan tim pemenangan) dalam meraih simpati dan dukungan rakyat selama ini.

Karena dalam perspektif investasi politik jangka panjang, kemenangan, apalagi kekalahan dalam pilkada tidak menghilangkan upaya evaluasi secara matang terhadap strategi dan pilihan politik selama ini. Iklan dan kampanye yang hingar bingar yang dipertontonkan dan diperdengarkan kepada rakyat bisa jadi memenangkan pertarungan namun ia juga tidak serta merta mampu memenangkan pertarungan.

Sebab pemegang kunci utamanya adalah rakyat yang memiliki andil besar dan menentukan. Seterusnya, dalam konteks SIAO MENANG DAN SIAP KALAH, nilai-nilai nasionalisme, patrotisme dan kebersamaan sebagaimana yang sering disampaikan pada momentum menjelang pilkada justru akan menjadi maslahat manakala dipraktikkan secara nyata untuk menerima kekalahan secara arif dan bijaksana, lalu dilanjutkan dengan menginvestasikan berbagai gagasan strategis kepada pemenang (calon terpilih) kontestasi pilkada demi pembangunan daerah yang lebih baik.

Tapi di atas semua-semuanya, harkat dan martabat  serta jati diri bukan terletak pada keharusan memenangi seluruh pertarungan, termasuk pilkada. Sebab, kemenangan alias keterpilihan adalah amanah yang meniscayakan sang pemenang  untuk mewujudkan kehendak dan mandat rakyat dengan sungguh-sungguh, profesional dan bertanggung jawab.

Sedangkan kekalahan adalah momentum untuk mengevaluasi dan merefleksi kualitas diri sekaligus kesempatan untuk menaikkan jenjang kontribusi bagi kepentingan daerah bahkan bangsa dan negara. Jadi, kita mesti siap kalah dan siap menang.

Semoga perjalanan semua tahapan pesta demokrasi (Pilkada Aceh) kali ini menyisakan cerita manis dan sejarah emas yang akan dikenang sepanjang hidup, bukan hanya bagi rakyat Aceh tapi bagi seluruh rakyat Indonesia dan dunia Internasional, bahwa rakyat Aceh memiliki peradaban yang tinggi, jiwa patriotisme dan kesatria sejati, serta jiwa kenegarawanan yang patut diacungi jempol yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan, kesatuan, dan tali silaturrahmi meski berbeda pilihan politik.

Salam demokrasi dan salam persatuan dan kesatuan.

#Penulis adalah pemerhati sosial politik di Aceh

%d blogger menyukai ini: