Rindu Tanah Aceh dan Ingin ke Linge, Dialah Sosok Pewaris Utama Kesultanan Aceh

Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam berdoa usai menerima plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional atas nama Almarhumah Laksamana Keumalahayati dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam satu upacara penganugerahan gelar pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (9/11/2017). Foto : SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA

Laporan : Kurnia Muhadi

TAKENGON - LINGE POST : Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam adalah nama yang diberikan oleh Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah atas kelahiran seorang cucunya sebagai putri kerajaan.

Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah sendiri merupakan sultan terakhir Kerajaan Aceh Darussalam yang pada akhirnya diasingkan oleh Belanda ke Tanah Jawa.

Tak hanya menetapkan nama untuk kelahiran cucunya itu, Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah, juga menetapkan status gelar kerajaan bagi sang cucu sebagai Sultanah, tepat pada 42 hari kelahirannya.

Kini saat kemahsyuran Kesultanan Aceh yang pernah disegani dunia itu tak terdengar lagi namanya, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam pun menjalani hidup layaknya orang biasa.

Sejak tahun 2008 Sultanah menetap di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ia menjalani hari tuanya disana bersama putri bungsunya bernama Pocut Merah Neneng.

Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam merupakan pewaris utama Kesultanan Aceh. Dia adalah anak sulung  dari Tuanku Ibrahim sekaligus cucu tertua Sultan Alaidin Muhammad Daud Syah.

Sebagai pewaris Kesultanan Aceh, Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam, baru-baru ini didaulat untuk secara resmi menerima penyerahan plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Pemerintah RI kepada Almarhumah Laksamana Keumalahayati oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Kamis 9 November 2017.

Dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional itu, Sultanah, tampak berdo'a usai menerima plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional untuk Laksamana Keumalayahati, sosok perempuan tangguh dari Aceh yang pernah memimpin pasukan Kesultanan Aceh di tengah lautan luas sebagai seorang paglima perang dan diplomat ulung.

Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam mengaku merindukan Tanah Aceh. Putri Kerajaan Aceh yang lahir di Beureuneuen dan telah menyandang gelar Sultanah di usia belia itu mengharapkan Tanah Aceh bisa memperoleh kembali kemulian dan kejayaannya di masa mendatang.

Ia juga mengaku ingin mengunjungi Linge, karena katanya pendiri Kerajaan Aceh Darussalam adalah Sultan Johansyah berasal dari Kerajaan Linge, di Gayo.

"Apabila ada langkah, saya ingin ke Linge," tutur Sultanah seperti dikutip aceh.tribunnews.com, Kamis 9 November 2017.

Dalam waktu dekat, Sultanah, berencana pulang ke Aceh mengantarkan sendiri plakat dan piagam gelar Pahlawan Nasional Laksamana Keumalahayati kepada Pemerintah Aceh.

Hendaknya, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah juga dapat memfasilitasi kehadiran Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam ke Gayo untuk bisa menunaikan niatnya mengunjungi tanah para raja di Linge sebagai daerah asal Sultan Johansyah pendiri Kerajaan Aceh Darsussalam.

Pada Masanya, Kesultanan Aceh pernah menjadi satu dari lima kerajaan Islam terbesar di dunia.

Dalam buku "Silsilah Raja Islam di Aceh dan Hubungannya Dengan Raja-Raja Islam Nusantara" karangan Pocut Haslinda Syahrul disebutkan bahwa Kesultanan Aceh Darussalam didirikan oleh Johansyah atau Merah Johan turunan dari Kerajaan Linge di Gayo.

Dialah sultan pertama Kesultanan Aceh Darussalam dengan gelar Sultan Alaidin Johansyah yang memerintah pada 601-633 H / 1203 - 1235 M.

Dalam perjalanannya, salah seorang sultan termahsyur dan melegenda yang pernah memimpin Kesultanan Aceh Darussalam adalah Sultan Iskandar Muda.

%d blogger menyukai ini: