Ramadhan, Penjual Lemang Raup untung Rp 5 juta per hari

Lemang Aceh. ©2017 Merdeka.com/afif

lingepost.com – Saban Ramadan tiba, penjual makanan beragam selalu bermunculan. Baik itu di pasar maupun di kampung-kampung. Lemang misalnya, ini merupakan jajanan yang banyak ditemukan di Sumatera, khususnya di Aceh.

Menikmati makanan yang dimasak dalam tabung bambu beragam ukuran ini semakin nikmat bila didampingi selai manis, atau dimakan dengan buah durian. Akan tetapi, tak kalah gurihnya bila dimakan tanpa campur apapun. Namun selama Ramadan, biasa lemang dimakan bersamaan dengan air tebu.

Di kota Banda Aceh coba Anda berjalan di beberapa pasar kaget seperti di Lamdingin, pasar Aceh dan sejumlah tempat jualan kudapan berbuka lainnya. Di sini Anda dengan mudah menemukan belasan penjualan makanan berbuka puasa, terutama lemang.

Membuat lemang bukan perkara mudah, harus berjibaku dengan panasnya api. Suhu api pun harus dijaga agar tidak berlebihan atau kekurangan. Lemang yang sudah dimasukkan dalam tabung bambu ini dimasak menggunakan bara api, bukan menggunakan api yang besar.

“Api tidak boleh terlalu besar, kalau tidak hangus,” kata Hafsah (67), pembuat lemang di Banda Aceh.

Hafsah mengaku membuat lemang sudah sekitar 15 tahun lalu dan selama bulan Ramadan permintaan semakin meningkat hingga ia harus mempekerjakan enam orang. Sebelum dimasak, Hafsah dibantu enam pekerja, semua anak, cucu dan menantunya harus terlebih dahulu memasukkan pengananan lemang ke dalam bambu yang beragam ukuran.

Selama bulan Ramadan, Hafsah mengaku membuat 3 jenis lemang yaitu lemang ubi, ketan hitam dan ketan putih kemudian dicampur dengan santan. Memasaknya dengan cara dibungkus dengan daun pisang, lantas dimasukkan ke dalam seruas bambu. Setelah itu dibakar di atas bara api hingga matang.

Memasak lemang membutuhkan waktu yang lama. Karena dimasak dengan bara api, Hafsah menyebutkan memasak lemang membutuhkan waktu antara 4 sampai dengan 5 jam. Sehingga dia sejak pukul 09.00 WIB sudah mulai bekerja dan mulai memanggang lemang pada pukul 10.30 WIB dan masak pada pukul 15.00 WIB.

“Selama Ramadan setiap hari ada 100 bambu lebih atau habis 50 Kg beras ketan,” jelas Hafsah.

Adapun omzet rata-rata yang diperoleh hasil penjualan lemang selama Ramadan sebesar Rp 5 juta per harinya. Sedangkan modal yang harus dikeluarkan untuk membuat lemang adalah Rp 1,5 juta per hari.

“Itu kalau semua terjual. Tetapi kalau bulan Ramadan, semua terjual seperti pengalaman tahun-tahun lalu,” imbuhnya.

Soal harga relatif tidak terlalu mahal, yaitu Rp 100 ribu untuk satu bamboo ukuran besar dan panjang 30 centimeter lebih dan ukuran kecil panjang yang sama Rp 30 ribu. Bila Anda hendak beli eceran, atau sudah dipotong-potong juga tersedia. Satu potong dibandrol harga Rp 5 ribu. | merdeka.com

%d blogger menyukai ini: