Pemkab Aceh Tengah diminta dirikan Balai Bahasa Gayo 

Dr Joni MN. ANTARA/HO

Takengon | lingePost – Pakar kajian bahasa dan budaya Gayo, Dr Joni MN, mengusulkan kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah untuk mendirikan Balai Bahasa Gayo sebagai wadah untuk mengkaji dan melestarikan bahasa daerah tersebut.

Menurut Dr Joni, saat ditanya wartawan di Takengon, Senin, pendirian Balai Bahasa Gayo saat ini diperlukan agar bahasa yang dituturkan oleh masyarakat Gayo itu tetap terjaga dan terawat dengan baik, sehingga tidak terancam punah seperti yang dikhawatirkan banyak pihak selama ini.

“Karena kita selama ini dari pemerintah daerah pun dan masyarakat, kan sering mengatakan bahwa bahasa Gayo akan punah, identitas Gayo akan hilang, kan gitu. Jadi solusinya, salah satunya adalah dengan mendirikan Balai Bahasa Gayo,” tutur Dr Joni.

Pria lususan S3 ilmu Pragmatik ini menjelaskan bahwa saat ini ancaman terdekat terhadap eksistensi bahasa Gayo adalah kehilangan nilai dalam berbahasa.

Menurutnya, nilai tersebut adalah ketika bahasa Gayo oleh penutur aslinya sejak dulu kerap menggunakan konteks eksternal dalam berbahasa.

“Nilainya itu ada dalam berbahasa bukan bahasa. Artinya di dalam berbahasa itu makna yang keluar itu tergantung konteks eksternalnya bukan internal. Kalau dalam bahasa konteksnya konteks internal,” ujarnya.

Dia mencontohkan seperti saat cara orang-orang Gayo menyapa sesama dengan penggunaan bahasa yang berada diluar konteks internal bahasa tersebut.

“Contohnya orang Gayo kalau menanyakan kabar jarang dengan ‘hana keber’ (apa kabar) kan jarang, tapi ‘kune sehat ke’ (gimana sehat). Jadi seperti itu biasanya kalau orang Gayo asli. Berbahasa istilahnya,” sebut Dr Joni.

Atau dalam hal lainnya, kata dia, adalah disaat orang-orang Gayo memakai cara berbahasa seperti memaki ketika baru berjumpa dengan teman lamanya.

“Seperti saat kita sudah lama tidak jumpa dengan kawan, waktu jumpa itu kan seperti kita memaki kawan kita itu, tapi dia tidak sakit hati, malah tambah merasa akrab,” ucapnya.

Karena itu, Dr Joni, mengatakan kehadiran Balai Bahasa Gayo nantinya juga sangat diharapkan untuk dapat mengkaji kembali nilai-nilai dalam berbahasa seperti yang dijelaskan tersebut, karena pada prakteknya banyak terdapat di dalam penggunaan bahasa Gayo.

“Konteks eksternal yang seperti ini perlu kita kaji lagi di Balai Bahasa Gayo. Jadi tidak kaku hanya sekedar mengkaji statis saja. Nah inilah motivasi kita atau dorongan untuk kita kenapa harus didirikan Balai Bahasa Gayo ini,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa dalam bahasa Gayo tidak cukup hanya mempelajari sistem bahasanya saja, tapi harus juga memahami penggunaannya.

“Jadi bahasa Gayo itu kita tidak hanya cukup mempelajari sistem bahasanya tapi kita juga harus mengkaji penggunaan berbahasanya. Bukan hanya bahasa tapi berbahasa. Karena kan berbahasa yang paling terfungsikan di tengah masyarakat dari pada bahasa,” sebutnya.

Pria yang juga akrab disapa, Dr Peri Mestike ini berharap pemerintah daerah setempat dapat segera merealisasikan pendirian Balai Bahasa Gayo yang telah diusulkan tersebut.

Dia mengatakan bahan kajian dan draf usulan terkait ini telah diserahkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tengah sejak dua pekan lalu.

“Kalau nomenkelaturnya kita serahkan ke pemerintah bagaimana bagusnya. Tapi kalau struktur di dalamnya, itu nanti ada bermacam bidang kajian, istilahnya ada language use ada language used di dalamnya,” kata Dr Joni.

Lanjutnya, keberadaan Balai Bahasa Gayo tersebut nantinya juga diharap akan diisi oleh oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya.

Balai dimaksud, kata dia, harus dapat membuat kajian-kajian agar bahasa Gayo dapat terus terawat dan terjaga di masa yang akan datang.

“Dengan adanya balai, jadi kita bisa kelola, kita bisa kaji, bagaimana seharusnya mengintegrasikan bahasa Gayo itu ke dalam dunia pendidikan atau ke dalam unsur-unsur yang lain,” ujarnya.

Pria yang juga merupakan dosen di Universitas Gajah Putih Takengon ini mengatakan bahwa saat ini penutur bahasa Gayo diperkirakan masih berjumlah sekitar 360 ribu lebih.

Menurutnya, keberadaan bahasa Gayo saat ini memang belumlah terancam punah, tapi sudah mendekati ancaman tersebut.

“Hanya saja sekarang berbahasanya sudah beda, sudah banyak diterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Gayo, bukan lagi bahasa Gayo yang asli,” kata Dr Joni MN.

 

 

Pewarta : Kurnia Muhadi
ANTARA
%d blogger menyukai ini: