Irwandi MN, Master Nasional Catur Pertama dari Gayo

Laporan : Kurnia Muhadi

Takengon - lingepost.com : Dia sudah mengenal permainan catur sejak usia 6 tahun. Bakat caturnya muncul alami. Dunia catur kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupannya.

Pada tahun 2003, Dia meraih gelar Master Nasional (MN) di Bandung, Jawa Barat, setelah sempat melanglangbuana di berbagai kejuaraan catur tanah air.

Prestasi itu sekaligus mencatatkan namanya sebagai pecatur pertama dari wilayah Gayo yang menyandang gelar Master Nasional.

Sedangkan untuk skala Provinsi Aceh saat itu, baru ada 4 pecatur yang menyandang gelar serupa.

Pecatur berbakat ini, kemudian kerap mewakili Aceh di berbagai kejuaraan catur tingkat nasional. Namanya pun tak asing lagi dikalangan pecatur tanah air.

Dia adalah Irwandi MN. Pecatur ini telah beberapa kali menjuarai turnamen catur tingkat nasional, hingga akhirnya meraih gelar master-nya di tahun 2003 dengan ello rating 2238.

Kemunculannya sebagai seorang Master Nasional catur menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat di Dataran Tinggi Gayo.

Dia menjadi orang pertama dan satu-satunya dari wilayah Gayo yang mampu mengukir prestasi tersebut.

Pria ini pun berharap, kelak akan ada pecatur berbakat lainnya dari Gayo yang akan mengikuti jejaknya.

Irwandi MN kemudian mulai melirik pengembangan olahraga catur di tanah kelahirannya, Kabupaten Aceh Tengah, sejak kembali dari Jakarta pada tahun 2006.

Dia juga mulai aktif di kepengurusan cabang Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) Kabupaten Aceh Tengah.

Salah satu targetnya adalah mendirikan sekolah catur di tanah kelahirannya itu.

Pria ini memimpikan suatu saat akan muncul generasi-generasi berbakat dari Gayo yang akan menjadi pecatur hebat di level nasional, bahkan internasional.

Menurutnya, dunia catur sangat berpotensi untuk mengharumkan nama daerah, Kabupaten Aceh Tengah, di kancah nasional, jika dikembangkan secara serius dan berkesinambungan.

Sosok Irwandi MN

Irwandi lahir di Takengon pada 5 Oktober 1980. Dia adalah anak kedua dari lima bersaudara dalam keluarga pasangan M. Amin dan Mastana Sari.

Pria ini menjalani masa kecilnya di lingkungan Kampung Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.

Sejak usia 6 tahun, Irwandi, sudah mengenal permainan catur. Di lingkungan kampung tempat tinggalnya saat itu, umumnya catur menjadi permainan orang dewasa.

Tapi bagi Irwandi kecil, catur adalah miliknya. Dia muncul sebagai seorang bocah dengan bakat alami. Permainan caturnya tak bisa dipandang sebelah mata.

Walau masih usia dini, Irwandi, kerap mengalahkan permainan catur orang-orang dewasa yang bertanding melawannya.

"Dulu waktu kecil, saya orangnya lasak. Kalau ada orang (Dewasa) lagi main catur sering saya komentari, kenapa ngak kesini (Langkah catur). Karena lasakkan, tangan saya pun terus ikut main gitu," tutur Irwandi mengenang masa kecilnya.

Bakat dan talenta Irwandi kecil di bidang olahraga catur kemudian dilirik oleh pengurus PERCASI Aceh Tengah, kala itu.

Irwandi lalu dibimbing untuk terus mengasah kemampuan dan bakatnya itu, hingga kerap menjuarai turnamen catur yang diikutinya, mulai dari tingkat kampung, kecamatan, dan tingkat Kabupaten Aceh Tengah.

Dalam kurun waktu beberapa tahun saja, nama Irwandi sebagai bocah pecatur dengan bakat mumpuni, semakin dikenal dikalangan pecinta catur di wilayah Dataran Tinggi Gayo, bahkan di tingkat Provinsi Aceh.

Pada usia 16 tahun, Irwandi, untuk pertama kalinya mewakili Provinsi Aceh mengikuti kejuaraan catur tingkat nasional di Jakarta, pada 1997.

Raih Gelar Master Nasional

Sejak menamatkan sekolah SMA di tahun 1999, Irwandi, kemudian memantapkan tekadnya untuk merantau ke Kota Banda Aceh demi melanjutkan pendidikannya.

Kala itu, Irwandi, mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Perbankan, Banda Aceh.

Namun, sekolahnya itu kemudian harus kandas di tengah jalan karena alasan tertentu.

Dunia catur masih terus membanyangi setiap langkah kehidupannya.

Dia pun lalu memantapkan tekad untuk terus melanjutkan sepakterjang di ranah olahraga catur profesional.

Pada tahun 2001, Irwandi, akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan sekolah catur di Jakarta, demi memuluskan tekadnya itu.

Pria ini memilih Sekolah Catur Utut Adiyanto demi untuk lebih memperdalam ilmu caturnya.

Kala itu, Irwandi, menjadi salahsatu siswa terbaik di sekolah catur yang didirikan oleh pecatur terbaik Indonesia Grand Master Utut Adiyanto tersebut.

Irwandi mampu lulus lebih cepat dari siswa lain seangkatannya di Sekolah Catur Utut Adiyanto. Dia juga menyandang kelulusan dengan predikat siswa terbaik.

Sejak saat itu, sosok Irwandi, semakin getol mengasah kemampuannya di meja pertandingan catur.

Dia muncul sebagai seorang yang dijuluki master gelap dikalangan pecinta olahraga catur di Jakarta.

Master Gelap adalah julukan yang lazim disematkan kepada seorang pecatur hebat tak terkalahkan yang belum tercatat menyandang gelar master dari organisasi resmi FIDE catur.

Nama Irwandi pun semakin dikenal dan disegani oleh para pecatur di Jakarta, kala itu.

Dia sering menghadapi lawan-lawan tanding yang sudah menyandang gelar resmi sebagai Master Nasional di meja pertandingan tidak resmi dan berhasil mengalahkan lawan-lawannya tersebut.

Kehebatan Irwandi akhirnya dilirik oleh club catur Novos Chess Club (NCC), Grogol, Jakarta. Pria ini kemudian bergabung bersama NCC pada tahun 2002.

Sejak bergabung bersama club catur tersebut, Irwandi, mulai mengikuti berbagai kejuaran catur resmi di Jakarta. Dia pun meraih berbagai prestasi.

Pecatur berbakat ini kemudian menyandang gelar resminya sebagai Master Nasional setelah sukses mengumpulkan ello rating di angka 1138 pada Kejuaraan Nasional Telkom Open, di Bandung, Jawa Barat, pada tahun 2003.

Kemudian di tahun 2005, Irwandi, mendapat tawaran untuk bergabung dengan Club Catur Guna Darma, Jakarta.

Bersama club catur tersebut, Irwandi, menerima fasilitas beasiswa untuk kuliah di Jurusan Sastra Inggris Guna Darma, Jakarta.

Dia juga diberi uang saku Rp. 600 ribu per bulan serta dibiayai tempat tinggal (Kos) selama bergabung di Club Catur Guna Darma.

Sejak saat itu, Irwandi, semakin menunjukkan kehebatan permainan caturnya. Dia tercatat memenangkan sejumlah pertandingan.

Diantaranya, Dia meraih gelar Juara I kejuaraan catur tingkat nasional di Surabaya.

Mengembangkan Olahraga Catur Aceh Tengah

Pada tahun 2006, Irwandi MN, kembali ke Aceh Tengah dalam rangka mengikuti Pekan Olahraga Daerah (Porda) Aceh ke-10 di Kabupaten Aceh Tengah.

Namun saat itu, putera Gayo ini diminta untuk mewakili Kota Banda Aceh.

Irwandi MN akhirnya memutuskan untuk tidak kembali lagi ke perantauannya di Jakarta, sejak saat itu.

Dia memiliki pertimbangan dan alasan tertentu untuk keputusan yang diambil, walau beresiko kehilangan kesempatan untuk mengejar cita-citanya meraih gelar Grand Master dan menjadi pecatur terbaik di tanah air.

Selama kembali menetap di kampung halamannya Kabupaten Aceh Tengah, Irwandi, semakin jauh dari hiruk pikuk pertandingan catur berkelas nasional.

Dia pun semakin jarang mengasah kemampuan tandingnya melawan pecatur-pecatur hebat yang menyandang berbagai tingkatan gelar master.

Sedangkan di Aceh Tengah, sosok Irwandi, merupakan pecatur nomor satu yang tak terkalahkan oleh siapapun.

Otomatis pria ini tidak lagi memiliki lawan tanding yang sepadan untuk bisa terus mengasah kemapuannya bermain catur dengan mempraktekkan strategi dan langkah-langkah catur tingkat tinggi.

Namun, Irwandi, tidak menyesali jalan hidup dan keputusan yang telah diambilnya.

Dia kemudian memfokuskan diri untuk mengembangkan olahraga catur di Kabupaten Aceh Tengah dengan bergabung bersama PERCASI Aceh Tengah.

Walau kehilangan masa-masa terbaiknya untuk menjadi seorang pecatur profesional terbaik di level nasional, Irwandi, tetap tidak meninggalkan dunia catur-nya.

Pria ini selalu mewakili daerahnya Kabupaten Aceh Tengah pada setiap even olahraga tingkat Provinsi Aceh yang diselenggarakan.

Terakhir, Irwandi MN, meraih medali emas pada Pekan Olahraga Aceh (Pora) ke XII Tahun 2014, di Kabupaten Aceh Timur.

Saat itu, dia kembali membuktikan kapasitasnya sebagai seorang pecatur hebat dengan mengungguli pecatur-pecatur andal lainnya di tingkat Provinsi Aceh.

Sosok Irwandi MN juga masih kerap mewakili Aceh di berbagai kejuaraan catur tingkat nasional.

Kini, Irwandi MN, semakin memfokuskan diri untuk pengembangan olahraga catur di Aceh Tengah. Bersama PERCASI, Dia mulai membuka pendaftaran siswa Sekolah Catur Takengon (SCT) yang didirikannya.

Pria ini berharap, di masa mendatang akan muncul generasi-generasi berbakat dari Dataran Tinggi Gayo yang akan mengikuti jejaknya mengharumkan nama daerah di kancah nasional lewat dunia catur.

Profil

Nama : IRWANDI

Tempat Lahir : Takengon, 5 Oktober 1980
Alamat : Kampung Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah

Pendidikan :
- SD N 2 Pegasing tamat 1993
- SMP N 1 Pegasing tamat 1996
- SMA N 1 Pegasing tamat 1999
- Sekolah Catur Utut Adiyanto Jakarta, tahun 2001.
- Sastra Inggris Guna Darma Jakarta tahun 2005

Keluarga :
Isteri : Sri Wahyuni

Anak :
1. Syifa Ayu Wandira
2. Muhammad Ariyo Linge

Pekerjaan :
- Pecatur Profesional
- Wartawan Harian Waspada

Organisasi :
- Sekretaris PERCASI Aceh Tengah
- Bendahara Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Aceh Tengah

%d blogger menyukai ini: