IPB Teliti Keanekaragaman Hayati di Gayo

Takengon | lingePost - Institut Pertanian Bogor (IPB) mulai meneliti keaneragaman hayati yang ada dalam masyarakat Gayo.

Dosen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB Arzyana Sunkar menyampaikan pihaknya saat ini melakukan penelitian terhadap tumbuhan di Dataran Tinggi Gayo untuk tujuan konservasi tanaman pangan dan obat-obatan.

Penelitian kata dia juga akan dilakukan terhadap budaya lokal untuk tujuan pelestarian bahasa.

"Kami memilih untuk fokus ke masyarakat Gayo. Sayangnya karena Covid-19, kami belum bisa berangkat ke lapangan," kata Arzyana Sunkar di Jakarta, Kamis (20/8/2020).

Untuk alternatif saat ini kata Arzyana pihaknya baru bisa melakukan pengumpulan data dengan cara mewawancarai masyarakat Gayo di wilayah Jabodetabek.

Sedangkan untuk seluruh rangkaian penelitian ini kata dia ditargetkan akan berlangsung selama tiga tahun.

"Nanti akan diukur tingkat pengetahuan tradisional dan vitalitas bahasa yang menggambarkan kecenderungan hilangnya biodiversitas, dengan menggunakan TRALAVi (Traditional Knowledge and Language Vitality) index," tutur Arzyana.

Sementara peneliti bahasa Gayo Yusradi Usman al-Gayoni dalam hal ini mengatakan orang Gayo tempo dulu memiliki konsep pangan dan ketahanan pangan yang dikenal dengan "Beras padi tungket imen. Gadung-kepile peger ni keben".

"Beras padi merupakan makanan pokok. Singkong ubi jadi makanan pendukung jika tidak ada beras," kata Yusradi.

Menurutnya masyarakat Gayo memang mengenal dan memanfaatkan tumbuhan sebagai tanaman pangan, obat-obatan, dan untuk upacara adat atau kegiatan sosial.

Dia menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat Gayo sudah ada sejak 8000-an tahun lalu (Prasejarah) dan merupakan penduduk pertama atau suku asli di Aceh.

Orang-orang Gayo disebut mendiami wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan sebagian wilayah Aceh Timur-Aceh Tamiang.

"Orang Gayo di daerah-daerah tadi disebut dengan Gayo Lut, Gayo Deret, Gayo Belang, Gayo Serbejadi, dan Gayo Kalui dan memiliki beberapa dialek dan subdialek bahasa," tutur Yusradi.

 

HM
%d blogger menyukai ini: