Inspirasi Semangat Belajar dari Sosok Tgk Mahmud Ibrahim

Laporan : Kurnia Muhadi

Takengon - lingepost.com : Belajar dan terus menimba ilmu tanpa kenal waktu dan usia. Itulah semangat yang melekat pada sosok Tgk H Mahmud Ibrahim.

Baginya ilmu adalah nomor satu. Hal itu dibuktikannya dengan semangat luar biasa untuk bisa meraih gelar doktor di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, pada usianya yang ke 86 tahun.

Tak pelak, Tgk Mahmud Ibrahim, menjadi mahasiswa tertua di UIN Ar-Raniry saat itu. Namun usia bukanlah penghalang, Mahmud Ibrahim, bahkan mampu menyelesaikan program S3 (Doktoral)-nya itu di bidang studi Ilmu Fiqih Modern, hanya dalam kurun waktu 3 tahun.

Mahmud Ibrahim sukses mempertahankan disertasinya tentang konsep pelestarian hutan menurut hukum Islam dan kaitannya dengan masyarakat adat Gayo dalam Sidang Promosi Doktor yang dipimpin langsung oleh Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, pada 23 Februari 2016.

Banyak kalangan mengapresiasi, menaruh hormat, dan rasa kagum atas semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh, Tgk Mahmud Ibrahim, dalam ketekunannya untuk terus belajar hingga mampu meraih gelar doktor di usianya yang telah memiliki 25 cucu dan 15 cicit.

Jika ada pepatah yang mengatakan Tak ada Kata Terlambat untuk Belajar maka Tgk Mahmud Ibrahim telah membuktikan hal itu.

Sosoknya pantas menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih giat dalam belajar dan menimba ilmu tanpa mengenal lelah.

Semangat belajar dalam diri, Mahmud Ibrahim, juga seolah membuktikan bahwa kesuksesan yang diraih dalam hidup tak lantas harus membuat sesorang berpuas diri dan berhenti untuk belajar.

Tgk Mahmud Ibrahim bahkan pernah menduduki jabatan birokrasi tertinggi sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 1968-1985.

Pria kelahiran Mesir Bebesen, Aceh Tengah, pada 29 Juni 1929 ini tetap aktif berkontribusi untuk daerahnya, walau telah memasuki masa pensiun.

Mahmud Ibrahim kemudian bertugas sebagai Kepala Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah. Sebelumnya, ia juga dipercaya untuk memimpin perguruan tinggi Gajah Putih Takengon, sejak tahun 1986.

Saat itu, Mahmud Ibrahim, menjabat Ketua Yayasan sekolah tinggi tersebut yang kemudian berubah status menjadi Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon.

Tak hanya menjadi pimpinan, Mahmud Ibrahim, juga aktif sebagai dosen disana. Selain itu, ia juga rutin melakukan kegiatan mengajar ilmu Agama Islam di berbagai tempat lainnya, termasuk di Masjid Agung Ruhama Takengon.

Tgk Mahmud Ibrahim juga merupakan salah seorang pimpinan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kabupaten Aceh Tengah. Ia juga merupakan anggota MPU Aceh.

Sebagai seorang ulama, Tgk Mahmud Ibrahim, kerap menyampaikan dakwah Islamiyah bahkan hingga ke luar daerah.

Ia adalah sosok yang kerap terlibat dalam pembangunan masjid, dayah, serta panti asuhan di Aceh Tengah.

Sosok ulama yang satu ini juga punya kegemaran menulis. Ia banyak menulis tentang hal yang berkaitan dengan Agama Islam, adat, dan sejarah Gayo.

Diantaranya ia menulis buku berjudul Syari'at dan Adat. Buku tersebut membahas keterpaduan antara syari'at dan adat serta penyebab keduanya terpisah.

Dalam buku itu, Mahmud Ibrahim, menjelaskan bagaimana sistem nilai budaya Gayo dalam norma dan sanksi adat. Serta kaitan iman, ibadah, dan akhlak dalam adat istiadat.

Ia mengatakan bahwa identitas suatu suku bangsa akan terpelihara dan berkembang dengan baik jika budaya dan adat istiadatnya dijaga dan dipelihara dengan baik pula.

Itulah sosok Tgk Mahmud Ibrahim. Banyak sudah sumbangan tenaga dan pemikiran yang didedikasikannya untuk pembangunan daerah, Aceh Tengah.

Ia merupakan tokoh multi sektoral yang berperan sebagai ulama, pendidik, birokrat, dan juga sejarawan.

Segala yang diraihnya adalah berkat semangat belajar yang tak kenal lelah, hingga menjadikannya sebagai seorang yang berpengetahuan luas.

Ia bahkan menginginkan sisa hidupnya untuk dapat terus belajar dan menimba ilmu. Satu semangat yang patut dicontoh oleh siapa saja demi dapat meraih kualitas hidup yang bermanfaat.

 

Tgk H Mahmud Ibrahim

- Lahir di Mesir Kampung Bebesen, Kecamatan, Aceh Tengah, pada 29 Juni 1929.

 

Pendidikan

- Sekolah Rendah dan Tarbiyah Simpang Empat Bebesen, Takengon, Aceh  Tengah, tahun 1942-1945.

- Pasantren Pulo Kitun, Kuta Blang Samalanga, tahun 1946-1949.

- Sekolah Menengah Islam di Pasantren Pulo Kitun Bireuen, tahun 1951-1953.

- Thawalib School Padang Panjang, Sumatera Barat, tahun 1953-1954.

- Fakultas Syariah Universitas Islam Sumatera Utara.

- Pasca Sarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, tamat tahun 2013.

- Program S3 (Doktoral) UIN Ar-Raniry Banda Aceh, tamat tahun 2016.

 

Pekerjaan

- Pegawai Daerah Aceh, tahun 1957-1968

- Sekretaris Daerah Tingkat II Aceh Tengah, tahun 1968-1985.

- Pimpinan Universitas Gajah Putih Takengon, sejak tahun 1985.

- Wakil Ketua Baziz Kabupaten Aceh Tengah, sejak tahun 1993.

- Ketua Baitul Mal Kabupaten Aceh Tengah, sekarang.

 

Organisasi

- Ketua Yayasan Quba Bebesen, Aceh Tengah, sejak tahun 1990.

- Ketua Yayasan Maqamam Mahmuda, Takengon, sejak tahun 1998.

- Ketua Umum Pembangunan Masjid Agung Ruhama Takengon, sekarang.

 

Keluarga

Istri              :  

Hj Reminah

Anak           :   

Nurhayati MM

Najwa

Rosmawati

Marhamah MM

Mariati MM

Abdiansyah Linge MA

%d blogger menyukai ini: