Ini kata Bupati tentang Upaya Pengolahan Sampah di Aceh Tengah

Bupati Shabela Abubakar

Takengon | lingePost - Bupati Aceh Tengah Shabela Abubakar mengatakan upaya kerjasama Pemkab setempat dengan perusahaan asal Malaysia untuk pengolahan sampah masih tertunda hingga saat ini akibat dampak pandemi COVID-19.

Namun menurutnya wacana kerjasama tersebut masih akan terus dilanjutkan dan kemungkinan baru akan terealisasi jika masa darurat COVID-19 telah berakhir.

"Kapan lockdown dibuka, kapan mereka bebas kemari, mereka langsung kemari," kata Shabela Abubakar, Selasa.

Bupati ini menjelaskan alat pengolahan sampah milik perusahaan asal Malaysia itu saat ini juga sudah berada Riau dan siap untuk dibawa ke Aceh Tengah jika situasi sudah memungkinkan.

Menurutnya jika kerjasama tersebut berjalan sampah-sampah di Aceh Tengah nantinya akan bisa diolah menjadi pupuk kompos dan pupuk cair.

"Karena mereka tahu di Aceh Tengah ini 80 persen masyarakatnya adalah petani. Jadi alat mereka yang bantu, dari Malaysia," tutur Shabela.

Selain itu kata dia Pemkab setempat juga belum menutup kemungkinan untuk menjalin kerjasama lainnya yakni dengan pihak perusahaan asal Inggris.

Bahkan dia menyebut ada kemungkinan dua perusahaan asing itu berkolaborasi dalam pengolahan sampah di Aceh Tengah.

"Inggris mau bekerjasama dengan yang Malaysia ini, dia mau bersama. Nanti kita undang lagi yang dari Inggris, kira-kira ada kelonggaran sedikit COVID ini atau kapan COVID ini berakhir baru kita undang lagi," ujarnya.

Namun Shabela menambahkan bahwa jika upaya kerjasama tersebut juga tidak berjalan semestinya maka pihaknya berinisiatif akan membeli alat pengolah sampah sendiri yang nantinya akan menjadi aset bagi Dinas Kebersihan setempat.

Untuk hal ini kata Shabela bahkan sudah pernah diupayakan pengadaannya di tahun 2019 untuk alat pengolah sampah seharga Rp2,5 milyar namun kemudian gagal.

"Kepala Dinasnya yang ragu, saya pikir DPR. Kepala Dinasnya ragu gagal, padahal gak mungkin gagal. Karena dengan adanya alat itu, kita sewa satu gedung, atau gudang, yang gak begitu luas, bisa, karena alat itu bisa diberdirikan, bisa tidur," tutur Shabela.

"2019 harusnya sudah ada alat itu. Ini kalau kerjasama dengan Malaysia tidak jalan, kita beli itu," ucapnya lagi.

 

 

HM/Ant
%d blogger menyukai ini: