Harga Emas Melemah, Dolar AS Menguat

Seorang karyawan bekerja menyusun emas batangan seberat 1 kg usai dicetak di kilang Kilang Logam Ahlatci di kota Anatolia, Corum, Turki, 11 Mei 2017. REUTERS

Jakarta - Pergerakan harga emas kembali melemah pada perdagangan siang ini, Jumat, 9 Juni 2017, seiring penguatan dolar AS menjelang keputusan pemilu Inggris. Hasil awal menunjukkan ketidakpastian dalam parlemen yang dapat mendorong negara itu mengalami pergolakan politik sebelum berlangsungnya negosiasi Brexit.

Harga emas Comex kontrak Agustus 2017 turun 0,23% atau 3 poin ke US$ 1.276,50 per troy ounce pada pukul 13.17 WIB, setelah dibuka dengan kenaikan 0,31 persen atau 4 poin di posisi 1.283,50.

Hasil exit poll pemilihan umum menunjukkan bahwa kubu Perdana Menteri Theresa May kemungkinan tidak akan memenangkan kursi mayoritas. Partai Konservatif diperkirakan hanya akan memenangkan 314 kursi dari total 650 di parlemen. Jumlah tersebut kurang dari dibutuhkan untuk mencapai mayoritas sebesar 326 kursi. Adapun Partai Buruh diperkirakan memenangkan 266 kursi.

Dengan tidak adanya partai yang menjadi mayoritas, terbuka peluang terbentuknya koalisi dalam parlemen. Situasi ini disebut sebagai hung parliament atau koalisi menggantung, yang dapat menimbulkan ketidakpastian politik di Inggris.

Jika hasil exit poll ini benar, Perdana Menteri Theresa May akan kehilangan kepercayaan di masa depan setelah keputusannya untuk mengadakan pemilihan lebih cepat dengan harapan mendapat kursi mayoritas di parlemen.

“Harga emas telah goyah dalam 24 jam terakhir dan diperdagangkan sedikit lebih rendah saat ini. Pergerakan besar hari ini adalah pound sterling, yang telah melemah di saat Partai Tory (Konservatif) terlihat tidak meraih mayoritas suara seperti yang diharapkan,” ujar Jordan Eliseo, kepala ekonom ABC Bullion, dikutip Reuters.

Ditambahkan olehnya, tidak ada kejutan penting dari hasil pertemuan kebijakan European Central Bank (ECB). Perhatian para pelaku pasar emas selanjutnya akan tertuju pada rapat The Fed (Federal Open Market Committee/FOMC) pekan depan.

Menurut Brian Lan, managing director GoldSilver Central, tekanan terhadap emas lebih datang dari peristiwa di Amerika Serikat (AS), termasuk penyampaian kesaksian mantan direktur FBI James Comey di depan Kongres AS.

Comey menuding pemecatan oleh Presiden Donald Trump terhadapnya dilakukan untuk berupaya untuk melemahkan investigasi terhadap kemungkinan kolusi antara tim kampanye Trump dan Rusia. Meski demikian, pernyataannya itu dipandang tidak mengandung kejutan besar.

Turut menekan emas, jumlah warga AS yang mengajukan klaim pengangguran dilaporkan turun pekan lalu. Hal ini menunjukkan pasar tenaga kerja yang mengetat meski pertumbuhan jumlah pekerjaan melambat baru-baru ini, sekaligus meningkatkan prospek penaikan suku bunga Fed berikutnya.

Seperti diketahui, pergerakan harga emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga yang meningkatkan opportunity cost kepemilikan aset tidak berimbal hasil seperti emas serta mendorong pergerakan dolar naik.

Sejalan dengan emas, harga perak kontrak Juli 2017 turun 0,34 persen atau 0,059 poin ke US$ 17,355 per troy ounce, setelah dibuka dengan penguatan 0,41 persen atau 0,071 poin di posisi 17,485.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama siang ini terpantau naik 0,34 persen atau 0,325 poin ke 97,243 pada pukul 13.18 WIB, setelah kemarin ditutup naik 0,18 persen di posisi 96,918. Kekuatan dolar AS hari ini ditopang oleh pelemahan tajam pound sterling. | TEMPO.CO | BISNIS.COM

Source:TEMPO.CO
%d blogger menyukai ini: