Asnaini, Perempuan Gayo penerima Anugerah Saparinah Sadli Award

Laporan : Kurnia Muhadi

Takengon – lingepost.com : Dia adalah perempuan pertama di Aceh Tengah yang menjabat sebagai Reje (Kepala kampung). Dia pula perempuan Gayo pertama penerima anugerah Saparinah Sadli Award sebagai sosok perempuan Indonesia yang menginspirasi banyak orang.

Dia adalah Asnaini. Perempuan yang menjabat Reje Kampung Pegasing di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah.

Nama perempuan Gayo ini telah dikenal luas seantero Tanah Air sebagai sosok perempuan tangguh dan berpengaruh, sejak kepemimpinannya sebagai Reje Kampung Pegasing menuai banyak keberhasilan, yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat kampung setempat.

Selain menerima penghargaan Saparinah Sadli Award di tahun 2014, Asnaini, telah lebih dulu meraih penghargaan Perempuan Aceh Award (PAA) tahun 2012.

Media-media nasional saat itu bahkan menulis Asnaini sebagai perempuan paling berpengaruh di Aceh.

Kedua penghargaan bergengsi yang diraihnya itu bukan tanpa alasan. Asnaini dinilai sebagai sosok perempuan yang menginspirasi. Dia telah berhasil membawa banyak perubahan positif untuk masyarakat kampung yang dia pimpin, khususnya untuk kaum perempuan, sejak dia terpilih sebagai Reje Kampung Pegasing, pada awal tahun 2011.

Dia menginisiasi masuknya listrik ke Dusun Luwang, Kampung Pegasing. Dusun yang dihuni 22 Kepala Keluarga (KK) itu sebelumnya tanpa listrik sejak berpuluh tahun lamanya.

Asnaini terus mewujudkan pembangunan di desanya. Dia memimpin 414 jiwa penduduk dari 270 KK di Kampung Pegasing.

Selain memanfaatkan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk pembangunan di kampungnya, Asnaini, juga gigih memperjuangkan pengalokasian anggaran kabupaten untuk mewujudkan pembangunan di desanya.

Perempuan ini adalah orang yang vokal di setiap Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) digelar. Dia selalu mengusulkan program-program pro rakyat dan gigih menyuarakan aspirasi masyarakat di desanya.

“Sebahagian kita ajukan proposal langsung, baik ke dinas-dinas ataupun lembaga tertentu. Karena kalau cuma mengandalkan dana desa tidak cukup. Kita berpikir bagaimana dana dari luar bisa kita bawa masuk ke desa ini,” kata Asnaini saat berbincang bersama lingepost.com di kediamannya di Kampung Pegasing.

Dengan kegigihannya, Asnaini, berhasil mewujudkan sejumlah pembangunan sarana publik di Kampung Pegasing melalui alokasi dana yang bersumber dari luar desa.

Diantaranya seperti pembangunan 100 tiang listrik untuk memasukkan listrik ke Dusun Luwang, pembangunan irigasi kampung, pengerasan jalan ke lokasi perkebunan warga, dan pembanunan embung air desa.

Sebagai perempuan, Asnaini, tak lupa menyuarakan aspirasi kaum perempuan di desanya untuk mendapatkan perhatian lebih di tingkat pemerintahan kabupaten.

Dia berhasil mendorong pengalokasian dana desa sebesar 50 persen untuk kepentingan kaum perempuan dan anak, mendorong pengalokasian anggaran kabupaten untuk insentif 1.500 kader Posyandu, dan memastikan bidan desa dapat menetap di desa, demi memudahkan pelayanan kepada warganya.

Asnaini juga memastikan dana Baziz yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin bisa tepat sasaran, mengadakan berbagai pelatihan untuk mengajarkan keterampilan khusus bagi perempuan di desanya demi dapat meningkatkan perekonomian keluarga, membentuk pengajian pedesaan khusus perempuan, hingga membuat tempat pemandian khusus untuk kaum perempuan di kampungnya.

Selain itu, Asnaini, juga berhasil memimpin kelompok tani yang beranggotakan kaum perempuan untuk menanam padi unggul jenis ciherang, memanfaatkan lahan desa setempat. Padi jenis ini memiliki keunggulan bisa dipanen 2 kali dalam setahun.

Kelompok tani perempuan ini pun menuai keberhasilan kerja mereka hingga Wakil Bupati Aceh Tengah, Khairul Asmara, ikut dalam kegiatan panen padi tersebut sebagai upaya percontohan bagi petani lainnya.

Semasa kepemimpinannya, Asnaini, juga mampu menciptakan kerukunan antar warga di kampungnya. Cara yang dia pilih adalah dengan lebih mengedepankan hukum adat untuk menghadapi setiap persoalan dan juga mengedepankan musyawarah warga.

Berkat kegigihannya mewujudkan pembangunan di Kampung Pegasing, sosok Asnaini, kerap mendapat perhatian dari berbagai kalangan.

Dia bahkan pernah diundang khusus untuk bertemu Wakil Presiden RI, Budiono, di Jakarta, pada tahun 2014.

Sosok Asnaini juga menarik perhatian banyak media yang ingin mengetahui kiprahnya sebagai kepala desa perempuan pertama di Aceh Tengah.

Sepakterjang perempuan Gayo ini ditulis dan diberitakan oleh hampir semua media lokal dan media-media nasional di Indonesia.

Media sekelas Majalah Kartini dan Femina bahkan pernah bertandang langsung ke rumahnya di Kampung Pegasing, untuk mengulas sosok seorang Asnaini.

Ibu tiga anak ini juga pernah diundang khusus oleh Metro TV untuk berbicara seputar isu perempuan bersama presenter kenamaan Fifi Aleyda Yahya dalam program Sudut Pandang.

**

Asnaini adalah perempuan Gayo kelahiran Gele Lungi pada 24 Januari 1971. Pendidikannya hanya tamat SMA.

Dia tercatat pernah bersekolah di SD 1 Simpang Kelaping, SMP Pegasing, dan SMA Pegasing (Tamat tahun 1991)

Asnaini membina keluarga sederhana bersama suaminya Mirzan dan 3 orang anaknya masing-masing Alhusni Barijeka, Dewi Rahmadaini, dan Mariani Munthe. Mereka menetap di Kampung Pegasing.

Sebelum menjabat reje kampung, Asnaini, aktif sebagai pengurus Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan PNPM Mandiri Pedesaan.

Dia membina dana simpan pinjam untuk kaum ibu mengembangkan usaha kreatif kecil dan menengah, sehingga bisa membantu perekonomian keluarga.

Diantara usaha yang dikembangkan oleh masyarakat di bawah binaannya, seperti membuat dodol dan selai nenas.

Keberhasilannya dalam membina kelompok usaha kreatif dari pemanfaatan dana simpan pinjam itulah yang kemudian membuat sosok, Asnaini, dipercaya oleh masyarakat di desanya untuk menjadi Reje Kampung Pegasing.

Banyak masyarakat yang datang memintanya untuk maju mencalonkan diri, pada Pemilihan Reje Kampung Pegasing yang digelar pada awal tahun 2011.

Asnaini pun bersedia. Dan akhirnya dia terpilih untuk menjabat Reje Kampung Pegasing periode 2011-2017.

Hasil akhir pemilihan menetapkan, Asnaini, sebagai peraih suara terbanyak. Dia mengungguli tiga kandidat calon reje lainnya yang merupakan kaum pria.

Sejak saat itulah, nama Asnaini, mulai dibicarakan banyak orang. Itu karena dia mencatatkan sejarah baru di Aceh Tengah sebagai perempuan pertama dan satu-satunya yang terpilih untuk menduduki jabatan reje kampung.

Asnaini mendapatkan kepercayaan dan amanah dari masyarakat. Dia dipercaya akan mampu mewujudkan pembangunan untuk Kampung Pegasing.

Harapan itu, kemudian benar-benar dibuktikan oleh Asnaini. Selain mewujudkan pembangunan berbagai sarana kepentingan masyarakat di kampungnya, dia juga gigih memperjuangkan peningkatan taraf ekonomi warganya.

Asnaini mampu membuktikan perannya sebagai agen perubahan untuk Kampung Pegasing. Berbagai terobosan pembangunan telah dia lakukan.

Dia pun berkomitmen untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak, sebagai bentuk kepedulian mendasar yang telah tertanam dalam jiwanya.

**

Anugerah Perempuan Aceh Award yang dia terima di tahun 2012 adalah penghargaan bergengsi. Penghargaan tersebut hanya diberikan kepada sosok perempuan tangguh yang menginspirasi banyak orang.

Asnaini terpilih setelah melalui tahapan penilaian awal, hingga masuk menjadi nominator.

Dewan juri pun akhirnya memutuskan, Asnaini, sebagai pemenangnya. Dia menyisihkan nominator lainnya untuk berhak menerima penghargaan Perempuan Aceh Award tahun 2012.

Penghargaan itu langsung diserahkan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, Hasbi Abdullah, didampingi Wakil Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal, serta Ketua Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Anak (BPPA) Aceh di Gedung ACC Sultan Selim II, Banda Aceh, pada 22 November 2012.

Nama Asnaini kemudian benar-benar menjadi perhatian nasional di tahun 2014. Perempuan Gayo ini terpilih sebagai peraih anugerah Saparinah Sadli Award 2014.

Itu adalah penghargaan paling bergengsi untuk para perempuan di Indonesia. Saparinah Sadli Award hanya diberikan kepada 1 orang perempuan Indonesia terpilih yang dinilai telah  menginpirasi banyak orang.

Penghargaan ini melambangkan sosok perempuan mumpuni yang oleh dewan juri dinilai sekuat dan sedalam tokoh perempuan Indonesia bernama Saparinah Sadli.

Tujuannya adalah untuk menghargai perjuangan para perempuan di Indonesia yang telah berdedikasi tinggi dan menginspirasi banyak orang di sekelilingnya untuk terus memperjuangkan hak-hak perempuan.

**

Asnaini mengemban anamah sebagai Reje Kampung Pegasing selama 6 tahun, sejak resmi dilantik pada awal Maret 2011.

Perempuan ini terus berupaya agar masyarakat di kampungnya bisa hidup makmur dan sejahtera. Banyak terobosan yang dia lakukan.

Dia juga menaruh perhatian khusus untuk warganya yang sudah lanjut usia (Lansia).

Program yang dijalankannnya adalah mendirikan Posbindu Lansia, membangun jamban sehat untuk Lansia, senam sehat rutin khusus Lansia, sampai membagikan selimut dan pakaian untuk para Lansia di desanya.

%d blogger menyukai ini: